Jakarta (UNAS) – Wakil Ketua MPR RI, Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H., mengunjungi Universitas Nasional (UNAS) dalam agenda MPR RI Goes to Campus, Rabu (05/03/2025), di Aula UNAS. Dalam kesempatan ini, ia mengajak mahasiswa untuk berperan aktif dalam transisi energi terbarukan sebagai upaya mengurangi dampak perubahan iklim.
Urgensi Transisi Energi di Indonesia
Eddy menyoroti bahwa Indonesia saat ini masih bergantung pada energi fosil, terutama batubara, yang menyumbang 61% dari total pembangkit listrik nasional. Sementara itu, bauran energi terbarukan baru mencapai 14%, masih jauh dari target 23% pada 2025.

“Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, yang berdampak pada peningkatan permintaan energi. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan pasokan energi dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan serta berkomitmen terhadap dekarbonisasi ekonomi pada 2060,” jelas Eddy.
Padahal, lanjutnya, Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah, seperti tenaga surya, angin, arus laut, air, panas bumi, dan biofuel. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal.
Sebagai langkah nyata, MPR RI telah menyusun Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBET), yang saat ini telah memasuki tahap final di DPR RI. Undang-undang ini diharapkan dapat mempercepat transisi energi, mengurangi emisi karbon, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
“Peralihan dari energi fosil ke energi hijau bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan,” tegas Eddy.
Peran Kampus dalam Akselerasi Energi Terbarukan
Dalam paparannya, Eddy menekankan bahwa peran kampus sangat krusial dalam mendukung transisi energi. Ia mendorong perguruan tinggi, termasuk UNAS, untuk aktif memberikan rekomendasi kebijakan berbasis riset dan inovasi.
“MPR RI siap memfasilitasi keterlibatan kampus dalam aspek kebijakan, legislasi, dan pengawasan. Kami juga akan mendorong pemerintah untuk memperkuat kolaborasi dengan akademisi dan perguruan tinggi dalam pengembangan energi terbarukan,” ujarnya.

Selain itu, Eddy juga menekankan pentingnya membangun universitas kelas dunia (world-class university) sebagai prasyarat menuju Indonesia Emas 2045.
“UNAS harus terus berkembang menjadi universitas kelas dunia agar dapat berkontribusi lebih besar dalam pembangunan bangsa,” pungkasnya.
Green Building sebagai Solusi Energi Berkelanjutan
Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Teknik dan Sains (FTS) UNAS, Ir. Ruliyanta, S.T., M.T., Ph.D., turut memaparkan materi mengenai Green Building sebagai Solusi dalam Transisi Energi.

“Green building adalah konsep bangunan yang dirancang dengan mempertimbangkan efisiensi energi, pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan, serta dampak lingkungan yang minimal,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa konsep green building dapat mendukung transisi energi dengan mengurangi konsumsi energi fosil dan mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan.
Harapan untuk Kolaborasi Berkelanjutan
Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNAS, Prof. Dr. Suryono Efendi, S.E., M.B.A., M.M., yang mengapresiasi diskusi ini sebagai langkah awal menuju kolaborasi yang lebih konkret.
“Semoga kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan baru bagi akademisi, praktisi, dan masyarakat, tetapi juga menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia,” ujar Prof. Suryono.

Ia menegaskan bahwa transisi energi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan dari kampus, industri, dan masyarakat untuk mewujudkan energi bersih dan berkelanjutan di Indonesia. (SAF)