Logo MPR

Pada bulan Ramadhan ini, acara ini mengusung tema “Bersama dalam Kebaikan : Kolaborasi dan Kerja Keras Menuju Dunia Global”. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Rektor Universitas Nasional Dr. El Amry Bermawi Putera, M.A. beserta jajarannya, Ketua Pembina YMIK Dr. Muhammad Noer, M.A., Penasihat Manajemen UNAS Prof. Dr. Umar Basalim, DES., Rektor Universitas Siber Asia (UNSIA) Prof. Jang Youn Cho, BA, MPA, Ph.D., CPA. serta para sivitas akademika UNAS dan UNSIA.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Usai pembacaan, acara buka puasa bersama dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Pengurus YMIK Dr. Ramlan Siregar, M.Si.

“Pada sore hari ini kita dapat bersilaturahmi di tempat ini dalam rangka kita melaksanakan buka puasa bersama dan mudah-mudahan buka puasa bersama ini memberikan keberkahan kepada kita semua,” ujar Ketua Pengurus YMIK Dr. Ramlan Siregar, M.Si.

Ramlan melanjutkan bahwa pihaknya mengapresiasi tema yang dipilih dalam kegiatan ini. Menurutnya, tema tersebut sesuai dengan seruan agama islam agar berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan untuk kemajuan bersama.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa, terdapat empat nilai positif yang dapat diambil pada bulan Ramadhan ini, yaitu melatih kedisiplinan, berbuat kebaikan, kejujuran, serta melatih kesabaran.

“Beberapa hal, yang barangkali kita bisa rasakan, ketika kita melaksanakan puasa adalah bahwa kita bisa menanamkan kedisiplinan. Kita berusaha disiplin untuk sahur, melaksanakan shalat lima waktu, tarawih, witir. Kemudian, berusaha secara maksimal untuk berbuat kebaikan pada diri kita saya yakin bahwa kita berusaha untuk memanfaatkan kalau ada kesempatan membaca alquran. Yang ke-3 hal yang mungkin kita bisa pelajari dari kegiatan bulan Ramadhan ini adalah kejujuran. Kita tahu bahwa bulan puasa ini adalah tidak ada yang tahu bahwa kita puasa apa nggak tapi kita tetap berusaha untuk puasa itu kejujuran. Yang berikutnya adalah kesabaran yaitu bahwa kita merasa lapar tetapi harus mengerjakan pekerjaan,” katanya.

Ramlan berharap, setiap yang hadir dalam acara buka puasa bersama ini, dapat menanamkan nilai-nilai positif yang disampaikannya. “Jadi saya berharap marilah kita menanamkan pada diri kita beberapa nilai-nilai positif yang saya sampaikan dari pelaksanaan ibadah puasa ini. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan ridho-nya kepada kita sehingga kita bersama-sama dapat berkembang,” ucap Ramlan.

Setelah sambutan dari Ketua Pengurus YMIK, acara ini dilanjutkan dengan tausiah agama yang disampaikan oleh Kyai Juwahir Attubany selaku Ketua Rohis Syuriah MWC NU, Gunung Putri, Bogor.

Dalam ceramahnya, Kyai Juwahir menekankan pentingnya tiga hal yaitu saling berbagi antar sesama, menahan amarah, dan saling memaafkan satu sama lain.

Semangat Untuk Saling Berbagi di Bulan Ramadhan

Kyai Juwahir menyampaikan bahwa setiap insam harus membagikan kebaikan yang Allah titipkan kepada dirinya. Dimana orang tersebut lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri sehingga disebut dalam keadaan.

“Kalau terjemahan umum lapang maupun sempit, butuh maupun nggak butuh kalau. sesuatu yang nggak butuh dibagikan ke orang lain itu wajar. Ini sesuatu yang butuh justru sesuatu itu, kita dahulukan kepada orang lain ini,” ujarnya.

Kemampuan Menahan Amarah

Potret yang ke-2 adalah orang-orang yang mampu menahan kemarahannya ketika menghadapi persoalan. Ia menyebut ketenangan hati terdapat didalam Al-Qur’an yaitu ‘Nafsul Mutmainnah’.

“Jadi tidak serta-merta menyimpulkan tapi ditenangkan dulu hatinya kemudian persoalan itu dikembalikan kepada Allah artinya semua yang terjadi adalah ibadahnya Allah subhanahu wa ta’ala yang disebut mengembalikan bukan keterpaksaan tapi dengan nuansa batin yang ‘radhiyyah’ yaitu yang rela,” katanya.

Lebih lanjut, Kyai Juwahir mengungkapkan bahwa barang siapa mengedepankan kemarahan maka orang tersebut akan menjadi orang yang sangat merugi. “Sehingga ada keterangan hadits ‘orang yang kuat itu bukan orang yang pandai gulat, orang yang kuat, bukan orang yang berani, atau memukul sekali pukulan lawan jatuh, orang yang kuat itu ialah orang yang mampu mengendalikan diri saat muncul kemarahan,” pungkas Kyai Juwahir.

“Menahan untuk tidak emosi bukan karena hanya sekedar memenuhi di bulan Ramadhan saja tapi menahan emosi merupakan kebutuhan kita agar kita bisa nyaman hidup bersama-sama dan bisa bekerja sama dengan yang lain,” tambahnya.

Memaafkan Diri Sendiri dan Satu Sama Lain

Hal ketiga yang perlu diingat adalah untuk saling memaafkan. Menjadi insan pemaaf adalah sesuatu yang sangat penting terhadap manusia. Selain memaafkan orang lain, orang tersebut juga harus mampu memaafkan diri sendiri.

“Yang ke-3 ini, sangat penting yaitu menjadi pemaaf terhadap manusia. Dan perlu kita ketahui bahwa masih ada orang yang belum bisa memaafkan diri sendiri,” tandas Kyai Juwahir.

Ia pun mengingatkan bahwa dalam hidup ini, kita tidak bisa berjalan sendirian sehingga ketika ada orang lain yang berbuat kesalahan agar dikomunikasikan dengan baik-baik dan kemudian saling memaafkan.

Sebelum menutup tausiahnya, Kyai Juwahir mengingatkan untuk saling bersama-sama berbagi sehingga dapat memberikan manfaat bukan hanya pada diri sendiri namun juga pada orang lain.

“Kita sadar bahwa kita tidak bisa beribadah sendirian atau melayani umat Nabi Muhammad sendirian, kita perlu bersama-sama dan punya komitmen bersama untuk berbagi. karena Allah memberi titipan rahmat yang berbeda-beda. Ada yang wujudnya beda, ada yang volumenya beda, dengan perbedaan itu kita gabungkan apa yang menjadi titipan rahmat Allah baik itu berupa ilmu, berupa tenaga, harta, dan pikiran,” jelas Kyai Juwahir.

“Semoga menjadi kolaborasi yang sangat luar biasa yang beri manfaat dan akhirnya menuju dunia Global untuk semuanya dan akhirnya menjadi jariyah bapak ibu semuanya dunia akhirat Amin ya rabbal alamin,” ucapnya. (*DMS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *