YMIK Terima Izin Pendirian Universitas Siber Pertama di Indonesia

BALI (YMIK) – Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) menerima izin prinsip pendirian Universitas Siber Asia dari Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak, dalam acara Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke 24 di Sanur, Bali, Senin (26/8). Unsiber merupakan universitas swasta berbasis full online learning pertama di Indonesia yang mendapatkan lisensi dari pemerintah.

‘’Alhamdulillah, terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Menristek Dikti beserta jajarannya, yang telah memberikan lisensi ini kepada kami untuk pendirian Universitas Siber Asia. Ini adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan untuk mewujudkan misi memberikan akses pendidikan tinggi yang merata dan terjangkau kepada generasi bangsa,’’ ungkap Ketua Pengurus YMIK, Dr. Ramlan Siregar, M.Si, dalam sambutannya. Pendirian Universitas Siber Asia mengukir sejarah baru dalam dunia pendidikan di Indonesia serta menegaskan komitmen YMIK sebagai Pionir Perubahan dalam bidang pendidikan.

Universitas Siber Asia akan menjalankan tiga strategi utama, yaitu meningkatkan kuantitas, memberikan fitur-fitur pengajaran yang sesuai dengan masa depan era revolusi industri 4.0 dan menghadirkan pengajaran dengan kualitas dunia (world class learning).

Saat ini, kata Ramlan, Angka Partisipasi Kasar (APK) di Indonesia baru mencapai 34 persen. Artinya, jumlah penduduk usia 19-23 tahun yang berkesempatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, hanya 34 persen. Sementara, lanjutnya, APK negara tetangga seperti Malaysia mencapai 51 persen, Singapura telah mencapai 82 persen, dan Korea Selatan telah hampir mencapai 96 persen. Universitas berbasis pengajaran online ini merupakan jawaban untuk mengatasi bonus demografi di tahun 2030 – 2040, dimana jumlah penduduk usia produktif yaitu berkisar 15 – 64 tahun lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif. Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan salah satunya melalui pemerataan akses pendidikan merupakan salah satu solusi untuk memaksimalkan manfaat dari bonus demografi tersebut. Universitas Siber Asia diharapkan dapat mendorong peningkatan APK di Indonesia.

Pendidikan berbasis full online learning dan full learning management system ini juga selaras dengan kebijakan pemerintah dan menjawab tantangan Era Revolusi Industri 4.0, memberikan efisiensi dalam layanan pendidikan tinggi dalam skala tidak terbatas bagi penduduk Indonesia tidak saja di perkotaan namun juga daerah terpencil yang memiliki akses internet. Bahkan dengan biaya pendidikan yang terjangkau, dapat membantu para pekerja dengan penghasilan rendah untuk tetap dapat mengakses pendidikan tinggi.

Nantinya, sistem pembelajaran Universitas Siber Asia memanfaatkan jaringan internet secara terbuka dan masif melalui program Massive Open Online Course akan menghadirkan fitur-fitur pembelajaran berorientasi masa depan untuk mempersiapkan lulusannya menghadapi era revolusi industri 4.0.

Universitas Siber Asia juga akan menjaga kualitas dengan membawa pembelajaran kelas dunia yang salah satunya dilakukan dengan membawa para pengajar terbaik dari berbagai negara seperti Amerika, Korea dan juga Indonesia. Didukung dengan insfrastruktur dan teknologi dari Korea, serta pengajar yang kompeten di bidangnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri, Universitas Siber Asia ditargetkan akan mulai menerima mahasiswa baru tahun depan melalui lima program studi yang akan dibuka yaitu Manajemen Kontemporer dan e-commerce, Akuntansi dan Perpajakan, Sistem Informasi, Informatika, Penyiaran dan Komunikasi Digital.

Untuk menyiapkan universitas Siber Asia, YMIK didampingi oleh pakar yang telah berpengalaman dalam memimpin universitas siber di Korea Selatan, yaitu Prof. Dr. Jan Youn Cho, MPA., CPA. Profesor Cho yang selama 10 tahun di Amerika Serikat ini merupakan mantan Vice President of Hankuk University for Foreign Studies, yang sekaligus merupakan Operating Rector dari Cyber Hankuk University for Foreign Studies, di Korea Selatan. Beliau juga pernah menjabat sebagai Dekan di College of Business dan Dekan Sekolah Pascasarjana di Hankuk University for Foreign Studies, Korea Selatan. Kami berharap dengan pengalaman dan kompetensinya, Prof. Cho dapat membawa Universitas Siber Asia menjadi universitas kelas dunia.

‘’Korea Selatan memiliki 21 universitas siber, dengan pengalaman memimpin salah satu universitas siber di sana, saya akan membawa Universitas Siber Asia sejajar dengan universitas terkemuka di luar negeri,’’ ujar Cho dalam kesempatan yang sama.

Langkah ini didukung oleh Menristek Dikti, Prof. Dr. M. Nasir. Menurutnya untuk mempercepat daya saing pendidikan ke depan, dunia pendidikan harus melakukan kolaborasi. “Dunia pendidikan tidak akan maju tanpa kolaborasi, jadi harus kita dorong untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Di era ini kita harus berkolaborasi, namun dengan tidak meninggalkan nasionalisme 4 pilar kebangsaan dan pancasila, UUD dan bhineka tunggal ika, ” Ungkap Nasir dalam acara Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke 24.

Dengan hadirnya Unversitas Siber Asia, Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) menambah lembaga pendidikan di bawah naungannya. Sebelumnya, YMIK telah memiliki Univesitas Nasional yang merupakan Perguruan Tinggi Swasta pertama di Jakarta, berdiri pada tahun 1949, dan Akademi-Akademi Nasional. Universitas Nasional memiliki 30 program studi dengan status akreditasi institusi A berdasarkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT), dan saat ini juga telah melakukan e-learning secara sistematis dan terprogram di 2 Fakultas selama 4 Tahun dengan dukungan semua sistem tata-kelolanya sudah berbasis Online mencapai 70 %. (*mth)

You May Also Like