Sosialisasi Fatwa MUI No.4/2014, PPI Gandeng YABI dan WWF Gelar Sarasehan Bersama Para Da’i

Jakarta (UNAS) – Dalam rangka aktivitas Javan Rhino Project di Banten, Pusat Pengajian Islam (PPI) Universitas Nasional bekerjasama dengan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia mengadakan kegiatan sarasehan dengan tema “Peran Serta Komunitas Masyarakat dalam Pelestarian Badak Jawa dan Spesies Dilindungi”. Kegiatan ini merupakan bentuk tindak lanjut dari sosialisasi Fatwa MUI No.4/2014 tentang pelestarian satwa langka untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

“Kegiatan ini, merupakan upaya lanjutan yang dilakukan untuk lebih meningkatkan sosialisasi terkait Fatwa MUI sehingga dapat ditingkatkan pada level komitmen bersama dengan melibatkan secara intensif kelompok masayarakat seperti petani, peternak dan rencana strategis ke depan mengenai konservasi badak jawa dan satwa lainnya di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK),” ujar Ketua Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional Dr. Fachruddin Mangunjaya , M.Si. dalam acara sarasehan di Hotel Kharisma Labuan, Banten, Kamis (8/8).

Beberapa tahun belakang ini, lanjutnya, upaya konservasi badak jawa telah dilakukan dengan pendekatan dan inovasi yang berbeda yaitu melalui agama. Upaya konservasi yang dilakukan dengan pendekatan agama sudah mulai dilakukan dengan adanya kerjasama antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan beberapa Non Governmnet Organization (NGO). “Hasil kerjasama tersebut menghasilkan Fatwa MUI No.04 tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Menjaga Kesimbangan Ekosistem. Upaya konservasi dengan pendekatan agama diharapan bisa lebih efektif masuk ke masyarakat, mengingat bahwa penduduk di provinsi Banten mayoritas pemeluk agama Islam,” papar Fachruddin.

Selain itu, upaya konservasi badak jawa dan sosialisasi Fatwa MUI No.04 tahun 2014 di provinsi banten dengan pendekatan keagamaan dilakukan dengan menggandeng para tokoh agama (da’i). Para da’i pun juga diberikan pelatihan. “PPI bekerjasama dengan Balai TNUK dan WWF Indonesia sudah melakukan pelatihan kepada para da’i dan sudah terbentuk pula da’i konservasi di provinsi Banten. Keberadaan da’i tersebut diharapkan dapat menyampaikan pengetahuan dan wawasan pandangan agama, serta meningkatkan kesadaran tentang pentingya melestarikan badak jawa kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan mengerti dan sadar akan pentingnya melestarikan spesies langka tersebut,” kata pria lulusan S3 Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor itu.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Kajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia Provinsi Banten K.H. Abdul Wahid Sahari, M.A mengatakan bahwa MUI akan bergerak berusaha mensosialisasi fatwa MUI baik kepada pengurus MUI di daerah melalui majelis ta’lim maupun dewan kemakmuran masjid. Menurutnya, penting bagi umat islam mengetahui fatwa MUI No.04 tahun 2014 agar masyarakat dapat menjaga dan melestarikan hewan yang dilindungi. “Penting bagi umat islam untuk menjaga dan melestarikan hewan karena hal tersebut merupakan perintah agama dan sudah disebutkan dalam Al-Qu’ran serta hadits Nabi telah memberikan penjelasan mengenai pentingnya menjaga hewan ini bagaimana harus bermuamallah atau berinteraksi dengan hewan,” jelas K.H. Abdul Wahid Sahari, M.A.

Project Leader WWF Indonesia – Ujung Kulon Drh. Kurnia Oktavia Khairani menjelaskan bahwa PPI bersama dengan mitra bekerjasama dengan Pemerintah daerah Pandeglang telah melakukan konservasi badak Jawa secara kolaboratif. Dan diharapkan kolaborasi ini dapat terus berjalan sehingga upaya konservasi dapat terlaksana dengan baik. “Kami mengetahui bahwa PPI memiliki program di ujung kulon dalam konservasi, dimana program tersebut yaitu pemberdayaan para Da’i untuk konservasi. Jadi ini akan mengisi ruang religius karena sebenarnya WWF dan mitra taman nasional beserta Pemerintah daerah belum mengisi diruang itu, jadi PPI dapat memiliki peran dalam hal tersebut. Dan harapannya acara ini awal dari bentuk wujud kolaborasi yang bisa kita lakukan kedepan,” ungkapnya.

Terkait dengan upaya yang sudah dilakukan, wanita yang akrab disapa Nia itu mengatakan bahwa WWF bersama dengan pemerintah daerah dan TNUK memiliki program edukasi yang sudah dilaksanakan di masyarakat. Program tersebut bertujuan memberikan wawasan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga hewan yang dilindungi. “Kami bekerjasama dengan pemerintah daerah pandeglang dan taman nasional ujung kulon sudah memiliki beberapa program yang dilakukan. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat desa penyangga taman nasional ujung kulon. Dengan hal tersebut kita mengharapkan masyarakat sadar akan pentingnya melakukan penyelamatan terhadap badak jawa,” ucap Kurnia.

Acara ini di ikuti oleh 26 peserta meliputi Da’i dan petani/peternak di desa penyangga Taman Nasional Ujung Kulon. Dalam kegiatan ini juga dilakukan Focus Group Discussion dengan para Da’i. Haji Ahmad Mulyadi salah satu Da’i yang hadir pada kegiatan sarasehan ini menuturkan sangat mengapresiasi kegiatan yang di inisiasi oleh PPI, YABI dan WWF. “Saya sangat bersyukur dan berterimakasih dan mengapresiasi acara kegiatan ini karena selain dapat bersilaturahim, para da’i juga mendapatkan banyak ilmu yang bisa kami serap untuk sosialisasi ke masyarakat,” tutup Da’i dari Desa Kertamukti Kecamatan Sumur Ujung Kulon itu. (*DMS)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.