Hadirkan Narasumber Internasional : Sekolah Pascasarjana Ilmu Politik Bahas Perkembangan Demokrasi di beberapa negara Eropa dan Asia.

Jakarta ( UNAS) – Indonesia,India, Malaysia,Tunisia serta Spanyol adalah negara – negara dikawasan asia dan eropa yang patut dijadikan teladan dalam hal berdemokrasi. Kelima negara tersebut merupakan negara yang sudah memiliki sistem pemerintahan yang baik dimana seluruh warganya telah ikut serta dalam penyelengaraan demokrasi sebagai bagian dari sistem dan tata kelola pemerintahan yang berkualitas. Bertempat di sekolah Pascasarjana Jl. RM. Harsono No. 1 Jakarta Selatan, Sekolah Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional menyelenggarakan seminar internasional yang dihadiri oleh delegasi dari tiap – tiap negara di dunia mereka adalah Prof. Dr. Maswadi Rauf ( Unas), Prof. Assosiate. Dr. Sity Daud ( Malaysia), Prof. Dr. Gautama ( India), Dr. Joan Ricard Augulo ( Spanyol) serta Dr. Maurad Belhassen ( Tunisia). Seminar bertajuk Experience Indonesia, Malaysia, India and Tunisia as a model Asia Democracy ini berjalan seru dan menarik.

Hadir sebagai pembicara pertama Prof. Dr. Maswadi Rauf selaku guru besar Universitas Nasional mencoba memaparkan demokrasi di Indonesia melalui pendekatan historis. Indonesia ungkapnya sebagai negara berkembang telah menyelenggarakan proses demokrasi sebanyak 4 kali. Dimulai pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dan berakhir pada era pemerintahan presiden Soeharto. Demokrasi kala itu tuturnya, dilatar belakangi oleh ketidakpuasan rakyat akan sistem pemerintahan yang otoriter dimana setiap warga negara dibatasi seluruh hak – haknya didalam menyampaikan aspirasi dan kritikan terhadap pemerintahan kala itu.

Dilandasi dengan semangat kekeluargaan dan gotong royong maka seluruh lapisan masyarakat bahu – membahu untuk menggulingkan rezim yang otoriter mereka berharap dengan berakhirnya rezim yang otoriter akan datang era baru dimana masyarakat bebas menyalurkan aspirasi dan pendapat terhadap pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia. Setidaknya ada empat kendala imbuhnya, yang kerap dihadapi oleh bangsa Indonesia didalam menerapkan demokrasi diantaranya: Tingkat pendidikan yang masih kurang didalam memahami kedisiplinan dalam bermusyawarah dan bermasyarakat, Rendahnya kesadaran hukum dan perundang – undangan yang ada di Indonesia, Tingkat kesejahteraan masyarakat yang relatif rendah serta Budaya masyarakat Indonesia yang anti demokrasi. Maka dari itu ungkapnya, Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk yang besar dapat memaksimalkan tujuan serta manfaat dari berdemokrasi demi menuju negara yang adil dan makmur serta aman sesuai dengan yang termaktub dalam UUD 1945.

“ Indonesia saat ini patut berbangga dengan perjalanan pemerintahan yang terus dievaluasi dari waktu ke waktu. Indonesia telah mampu merubah corak pemerintahan dari sistem presidensial menuju sistem demokrasi pancasila dimana sebuah negara berupaya untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam mengambil keputusan untuk mengubah hidup mereka. Maka dari itu saya menghimbau kepada para peserta seminar kali ini untuk dapat mengambil pelajaran tentang baik dan buruknya demokrasi dibeberapa negara didunia. Dengan banyaknya delegasi dari negara – negara di dunia yang hadir seperti malaysia, india, tunisia, serta spanyol ini menandakan betapa pentingnya pesan dan isu – isu demokrasi ini dapat dijadikan pembelajaran demi kemajuan bersama”,tutupnya.

Hadir sebagai pembicara terakhir pada seminar kali ini delegasi dari Universitas Kebangsaan Malaysia Prof. Dr. Sity Daud ini memaparkan tentang demokrasi di Malaysia menjelang pemilihan umum ke – 14. Demokrasi di Malaysia ungkapnya, adalah proses dimana masyarakat malaysia boleh menggunakan hak dan peluang tersebut untuk memberi mandat kepada partai – partai politik yang bertanding untuk menduduki kursi pemerintahan. Oleh karena itu tambah Sity, proses demokrasi yang terjadi di Malaysia telah mewujudkan hubungan simbiosis diantara rakyat yang memilih dengan partai yang dipilih untuk memerintah. Ada beberapa aspek yang mempengaruhi proses pemilihan umum diantaranya: loyalitas pendukung, pembangunan ekonomi dan kesejahteraan serta isu – isu mengenai kehidupan pribadi. Maka dari itu ia menghimbau kepada seluruh peserta yang hadir untuk dapat memetik hikmah dari proses demokrasi Malaysia diambang pemilu ke – 14 ini dengan sebaik – baiknya.

“ Terima kasih kepada Universitas Nasional dan Sekolah Pascasarjana Ilmu Politik yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi ilmu dan pengalaman mengenai iklim demokrasi yang ada di Malaysia. Ada tiga point yang dapat kita pelajari dari proses demokrasi di Malaysia yang terjadi jelang pilihan raya ke – 14. Pertama, apakah trend terkini dalam persaingan politik kepartaian menjelang PRU- 14? Kedua, apakah perubahan ini memberi political mileage kepada partai – partai yang akan bertanding? Ketiga, menilai daya tahan incumbents dengan trend terkini dalam persaingan politik kepartian dan bantuan demokrasi daripada pendanaan asing. Ketiga hal tersebut adalah bagian dari sistem demokrasi yang nantinya akan dihadapi oleh seluruh negara yang menganut asas keadilan dan kekuasaan untuk rakyat”, pungkasnya.

Seminar internasional yang berakhir pukul 19.00 ini ditutup dengan Penandatanganan Memorandum Of Understanding ( Mou) antara Unas dengan Universitas Kebangsaan Malaysia serta Unas dengan Universitas Jawahahla nehru India.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.